SANGGAU - IKN, Karena air sungai keruh yang diduga akibat ulah para penambang emas tanpa izin (PETI) di Sungai Boyan, Kecamatan Meliau, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, warga ngamuk dan lakukan pembakaran lanting jek penambang diatas sungai Boyan, Senin (20/7/2026)
Amukan massa ini menjadi puncak frustrasi terhadap degradasi lingkungan yang tak kunjung berkesudahan, sekaligus tamparan keras bagi otoritas yang dianggap tumpul.
Kapolsek Meliau, Iptu Supar, menyatakan bahwa kepolisian telah memberikan imbauan preventif hingga langkah persuasif berulang kali digelar agar masyarakat menyadari dampak PETI.
“Akan tetapi seringkali diabaikannya,” ujar Iptu Supar, merespons peristiwa pembakaran di perairan Desa Pampang II itu.
Menyikapi peristiwa amukan massa ini, Kepala Desa Pampang II, Marianto, mencoba meluruskan pusaran penyebab. Ia menyatakan, kekeruhan Sungai Boyan tak semata dipicu aktivitas di wilayah administrasinya.
Sumber utama kekeruhan justru berasal dari aktivitas masif di hulu, tepatnya di Kuala Rosan dan Sungai Kembayau.
Seorang warga yang tergabung dengan dengan massa aksi mengatakan, "ini merupakan bentuk kekecewaan mendalam warga pengguna air sungai yang meluapkan emosi terhadap alat-alat kerja pencari emas di sungai Boyan", tegas sumber memperingatkan.
Kondisi sungai saat ini sudah mengganggu kehidupan masyarakat karena sumber air yang menjadi kebutuhan warga di mana pada saat sekarang musim kemarau air surut pada saat
kemarau memperparah krisis air bersih lantaran jaringan pipanisasi yang dijanjikan tak kunjung optimal.
Eskalasi ancaman pun disuarakan lantang. Apabila dalam hitungan hari ke depan aktivitas PETI masih terus beroperasi, warga tak akan ragu menggelar operasi penyisiran besar-besaran.
Warga menekankan, akan melakukan swiping mulai dari Sungai Kembayau, Sungai Kualau Rosan, "Jika masih ditemukan PETI, akan dimassakan". Pernyataan ini adalah ultimatum terbuka demi penyelamatan lingkungan dan kelestarian habitat sungai.
(Raf)
Komentar